Deteksi dini kanker: Upayakan mulai dari cara konvensional
Kanker paru sering ditandai dengan sesak napas, nyeri dada, dan batuk berkelanjutan. Gejala tersebut penting untuk dikenali supaya kita dapat meningkatkan keberhasilan proses pencegahan dan pengobatan. Menteri Kesehatan RI mengingatkan pentingnya mengoptimalkan upaya pencegahan dan pengendalian kanker di Indonesia. Perlu ada upaya masif yang dilakukan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian kanker.
Kementerian Kesehatan RI menyusun satu akronim sederhana yang mudah diingat, tapi jika dijalankan dengan baik dapat mengurangi risiko diri terkena kanker, yaitu CERDIK. Kata ini merupakan singkatan dari (C)ek kesehatan secara berkala, (E)nyahkan asap rokok, (R)ajin aktivitas fisik, (D)iet sehat dengan kalori seimbang, (I)stirahat cukup, dan (K)elola stres. CERDIK memang menjadi cara paling sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengendalikan faktor risiko kanker, meski pada kenyataannya cukup sulit untuk mempraktikkannya secara konsisten.
Senada dengan Menteri Kesehatan, Elisna Syahruddin dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Respiratori Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan salah satu cara untuk mendeteksi kanker paru-paru adalah rutin melakukan medical check up. Menurutnya, individu yang berisiko rendah mengidap kanker paru-paru wajib memeriksakan diri ke dokter paru-paru minimal setahun sekali. Sementara yang berisiko tinggi, konsultasi ke dokter paru-paru setiap enam bulan sekali.
Reskia Dwi Lestari selaku Marketing Communication PT Prodia Widyahusada menjelaskan bahwa ada satu pemeriksaan non-lab yang direkomendasikan untuk skrining kanker paru secara internasional, yaitu Low Dose Computed Tomography (LDCT). “Ini merupakan pembaruan dari CT Scan yang dikenal dengan Low Dose Spiral,” ungkapnya kepada Kompas.com. LDCT merupakan teknologi yang bisa menghasilkan gambar tiga dimensi dengan resolusi tinggi. Teknologi LDCT dapat memperlihatkan detail yang lebih jelas dibandingkan x-ray dada konvensional.
Sayangnya, Kementerian Kesehatan dalam website resminya menyatakan pemeriksaan LDCT tidak direkomendasikan untuk pasien yang tidak memenuhi kriteria kelompok risiko tinggi, yaitu pasien usia > 40 tahun dengan riwayat merokok ≥30 tahun dan berhenti merokok dalam kurun waktu 15 tahun sebelum pemeriksaan, atau pasien ≥50 tahun dengan riwayat merokok ≥20 tahun. Hal ini disebabkan belum ada metode skrining yang benar-benar sesuai dan tepat untuk kanker paru, apalagi jika pasien dianggap belum memiliki faktor risiko kanker yang mendukung kecurigaan adanya keganasan pada paru-paru.
Lantas, apakah seseorang baru bisa didiagnosis menderita kanker paru dan ditangani hanya ketika sudah berada di stadium lanjut?
Artificial Intelligence Membantu Dokter Menghasilkan Diagnosis yang Lebih Akurat
Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam dunia kesehatan menandai perubahan besar dalam cara dokter menganalisis data medis. Selama bertahun-tahun, diagnosis kanker paru sangat bergantung pada pengalaman klinis dan ketelitian visual seorang radiolog. Namun, keterbatasan manusia seperti kelelahan, perbedaan persepsi, dan variasi pengalaman dapat memengaruhi hasil diagnosis. Di sinilah teknologi AI hadir sebagai solusi pelengkap yang mampu bekerja secara konsisten tanpa dipengaruhi faktor subjektif.
Kanker paru sendiri merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker di dunia. Tingginya angka kematian ini sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan diagnosis. Banyak pasien baru terdeteksi saat kanker telah memasuki stadium lanjut, sehingga peluang kesembuhan menjadi lebih kecil. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama dalam meningkatkan angka harapan hidup pasien kanker paru.
Teknologi Artificial Intelligence memiliki kemampuan untuk memproses data dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi. AI dapat menganalisis ribuan hingga jutaan citra medis dalam waktu singkat, sesuatu yang mustahil dilakukan manusia dalam skala yang sama. Kemampuan ini memungkinkan AI mengenali pola-pola kecil dan perubahan halus pada jaringan paru-paru yang sering kali tidak terlihat secara kasat mata.
Dalam konteks Industri 4.0, AI tidak bekerja sendiri. Teknologi ini terintegrasi dengan sistem big data, komputasi awan (cloud computing), dan Internet of Things (IoT). Data medis pasien dapat dikumpulkan dari berbagai sumber, disimpan secara terpusat, lalu dianalisis menggunakan algoritma cerdas. Integrasi ini menciptakan ekosistem kesehatan digital yang lebih efisien dan responsif.
Penggunaan AI dalam deteksi kanker paru juga membantu meningkatkan efisiensi kerja tenaga medis. Radiolog dapat memanfaatkan hasil analisis AI sebagai second opinion sebelum mengambil keputusan akhir. Dengan demikian, proses diagnosis menjadi lebih cepat tanpa mengorbankan akurasi. Hal ini sangat penting, terutama di negara dengan jumlah tenaga medis terbatas dan beban pasien yang tinggi.
Selain itu, AI mampu membantu memprioritaskan kasus-kasus yang berisiko tinggi. Sistem dapat secara otomatis menandai hasil pemindaian yang menunjukkan potensi kanker sehingga dokter dapat segera memberikan perhatian lebih. Pendekatan ini membantu mengurangi waktu tunggu pasien dan mempercepat proses penanganan medis.
Meski hasil penelitian menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi, penerapan AI dalam dunia medis tetap menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah ketersediaan data berkualitas tinggi. Algoritma AI membutuhkan data yang besar, beragam, dan representatif agar dapat bekerja secara optimal. Jika data yang digunakan tidak mencerminkan kondisi populasi secara luas, hasil diagnosis bisa menjadi bias.
Aspek etika juga menjadi perhatian penting dalam penggunaan AI di bidang kesehatan. Perlindungan data pasien harus menjadi prioritas utama. Informasi medis bersifat sangat sensitif dan harus dikelola dengan standar keamanan yang tinggi. Oleh karena itu, penerapan AI harus disertai regulasi yang jelas dan sistem keamanan data yang kuat.
Di sisi lain, penerimaan tenaga medis terhadap teknologi AI juga menjadi faktor penentu keberhasilan implementasi. Tidak semua dokter langsung merasa nyaman menggunakan teknologi baru. Dibutuhkan pelatihan, edukasi, dan pendekatan kolaboratif agar AI dapat diterima sebagai alat bantu, bukan ancaman terhadap profesi medis.
Penting untuk dipahami bahwa AI tidak memiliki intuisi, empati, dan pertimbangan etis seperti manusia. AI bekerja berdasarkan data dan pola statistik. Oleh karena itu, keputusan akhir tetap harus berada di tangan dokter sebagai tenaga profesional yang memahami konteks klinis dan kondisi pasien secara menyeluruh.
Kolaborasi antara manusia dan mesin menjadi konsep utama dalam penerapan AI di dunia kesehatan. Teknologi membantu meningkatkan akurasi dan efisiensi, sementara dokter memberikan penilaian klinis dan sentuhan kemanusiaan. Sinergi inilah yang diharapkan mampu menciptakan layanan kesehatan yang lebih baik.
Ke depan, pengembangan AI untuk deteksi dini kanker paru diprediksi akan terus meningkat. Algoritma akan semakin canggih seiring bertambahnya data dan kemajuan teknologi komputasi. Bahkan, AI berpotensi tidak hanya mendeteksi kanker, tetapi juga memprediksi risiko seseorang terkena kanker berdasarkan riwayat kesehatan dan gaya hidup.
Teknologi ini juga membuka peluang penerapan layanan kesehatan jarak jauh. Pasien di daerah terpencil dapat mengirimkan hasil pemindaian ke pusat layanan medis untuk dianalisis menggunakan AI. Hal ini membantu mengurangi kesenjangan akses layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Dalam jangka panjang, penggunaan AI diharapkan mampu menurunkan biaya layanan kesehatan. Deteksi dini memungkinkan pengobatan dilakukan lebih awal dengan biaya yang relatif lebih rendah dibandingkan penanganan kanker stadium lanjut. Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga oleh sistem kesehatan secara keseluruhan.
Penerapan Artificial Intelligence dalam deteksi dini kanker paru merupakan contoh nyata bagaimana teknologi Industri 4.0 dapat memberikan manfaat langsung bagi kehidupan manusia. Inovasi ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi, jika dimanfaatkan dengan tepat, dapat menjadi alat yang sangat kuat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit serius.
Dengan terus berkembangnya riset dan kolaborasi antara perusahaan teknologi, institusi medis, dan pemerintah, AI berpotensi menjadi standar baru dalam dunia diagnosis medis. Harapannya, semakin banyak nyawa yang dapat diselamatkan melalui deteksi dini yang lebih cepat, akurat, dan terpercaya.
Pada akhirnya, Artificial Intelligence bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan sebuah langkah maju menuju sistem kesehatan yang lebih cerdas, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan manusia. Integrasi teknologi dan keahlian medis menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan kesehatan di masa depan, khususnya dalam upaya melawan kanker paru secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Baca Juga : Waspada! SMS OTP Bank Bisa Disadap Fake BTS – Saatnya Upgrade ke Missed Call OTP
Tentang DTI
DTI Terdiri dari tim yang berdedikasi dan berpengalaman dalam menyediakan produk dan solusi di bidang IT yang dibutuhkan oleh klien dari berbagai bidang. Docotel 4.0 hadir dengan visi menjadi problem solver dan menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.







Add comment